Cerpen 10 halaman. Judul: Forgive Me, My Sister


FORGIVE ME, MY SISTER
            Darendra Devianathan, begitulah namanya yang biasanya sering ku panggil dengan sebutan Kak Daren. Ia merupakan seseorang yang baru-baru ini ku kenal setelah aku masuk ke sekolah yang sama dengannya yaitu SMA Tunas Bangsa. Di sekolah, Kak Daren sangat terkenal karena ia memiliki paras yang tampan dan juga pintar dalam olahraga terutama basket, hal itu membuat para siswi-siswi di sekolahku menjadi bersaing dalam merebutkan Kak Daren. Berbeda denganku yang hanya siswi biasa, aku tidak pintar begaul hanya karena aku orang introvert bahkan aku sering menjadi bahan ejekan di sekolah.
            Sebelumnya perkenalkan namaku Dera Naristya, biasa dipanggil Dera dan aku lahir di keluarga yang berkecukupan bersama Ibuku saja. Ibu bilang dari dulu Ayah sudah meninggalkanku sejak aku lahir dan aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena aku tahu betapa kecewanya Ibu terhadap Ayah karena dia telah lama meninggalkan kami. Dulu, kami tinggal di desa tapi karena aku ingin bersekolah di sekolah yang terkenal akhinya Ibu dan aku sepakat untuk pindah ke kota.
            Setelah aku bersekolah di sekolah menengah atas yang cukup terkenal di kota ini aku merasa tidak nyaman. Berbagai masalah muncul secara berturut-turut dan yang membuatku pasrah adalah aku sering dibully di sekolah ini. Aku hanya bisa diam ketika ada seseorang yang mengejekku dan hanya bisa menghindar ketika ada seseorang yang memukulku atau menyakitiku secara fisik. Sadar bahwa aku hanya orang desa yang pindah ke kota besar membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku juga sama seperti siswi-siswi pada umumnya yang ingin merasakan jatuh cinta, sejujurnya aku sangat ingin berteman dengan siapapun karena aku tidak mempunyai teman tetapi ku urungkan niatku itu karena aku sadar aku tidak pintar bergaul dan juga aku bukanlah siswi yang populer di sekolah ini. Tetapi aku sangat beruntung ketika ada seseorang yang datang secara tiba-tiba menolongku ketika aku dibully. Dia adalah Saras Puspita, biasa dipanggil dengan nama Saras. Saras merupakan siswi yang populer di sekolah ini, dia sangat ramah dan baik hati kepada semua orang dan parasnya yang cantik membuat siswa-siswa di sekolah ini jatuh cinta padanya. Setelah kejadian itu dia menjadi satu-satunya teman baikku, aku sangat berterima kasih kepadanya karena dia telah menolongku pada saat itu dan telah mau menerima diriku sebagai temannya. Setelah aku mempunyai teman aku sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah dan mengobrol dengannya.


6 bulan kemudian…
            Hari ini adalah hari dimulainya semester kedua. Seperti biasanya aku pergi ke sekolah dengan jalan kaki karena jarak rumah ke sekolah cukup dekat dan tidak lupa untuk berpamitan kepada Ibu. Aku berjalan santai ke sekolah, setelah sampai di gerbang sekolah aku merasa didorong oleh seseorang dari belakang sehingga membuatku hampir terjatuh. Orang itu berbalik ke arahku lalu menatapku sambil berkata,
“ maaf gua nggak sengaja”
Aku hanya diam dan menunduk karena aku belum biasa bicara bertatap muka dengan orang yang tidak ku kenal.
“ sebelumnya perkenalkan nama gua Darendra Devianathan, lo bisa panggil gua Daren” sambil mengurulkan tangannya lalu terseyum.
Awalnya aku ragu-ragu untuk berkenalan dengannya tetapi setelah ku pikirkan akhirnya aku mau menerima ulurannya dan memperkenalkan diriku.
“Perkenalkan namaku Dera Naristya, bisa dipanggil Dera, aku anak kelas 10 IPA 2, salam kenal”
Akhirnya setelah mengatakan itu aku menjadi sedikit lega walaupun sebenarnya aku masih malu karena dia adalah cowok populer di sekolah ini sedangkan aku hanya seorang siswi biasa yang tidak populer dan bahkan sering dibully.
“Salam kenal juga ya, hari ini kita sudah menjadi teman. Oh iya sekarang gua ada piket kelas. Gua duluan ya”
Ketika dia sudah pergi aku masih saja diam berdiri di depan gerbang sekolah sambil memikirkan kejadian yang tadi, kejadian yang mampu membuatku terseyum. Bagaimana tidak? Ini adalah pertama kalinya ada seorang siswa yang populer, baik, ramah yang mau berteman denganku. Aku sangat bersyukur bisa berteman dengan Daren dan Saras. Selama aku termenung memkirkan kejadian tadi tiba-tiba Saras datang dan mengangetkanku
“Darrr!...Hai Dera yang imut, kenapa nih muka mu merah begitu?” Tanyanya sambil memperhatikan wajahku.
“Halo Saras yang cantik. Ku kira siapa tadi, mengagetkanku saja. Mukaku nggak kenapa-napa kok cuma panas aja” jawabku  sambil geleng-geleng kepala.
“ Heee...Serius nih? Ciee yang tadi kenalan sama Daren”  Katanya sambil menggoda ku sedangkan aku hanya diam mengiyakan kata-katanya.
“ Yuk ke kelas barengan udah mau bell lho” Katanya sambil terseyum lebar lalu menarik tanganku.
 Aku dan Saras dulunya beda kelas tapi saat semester 2 ini kita menjadi teman sekelas. Alasan dia ingin sekelas denganku adalah biar dia bisa menolongku jika aku dibully oleh teman-teman sekelasku. Tentunya hal ini sangat membuatku bahagia karena aku bisa lebih dekat dengan Saras dan aku juga merasa nyaman ketika dia berada didekatku.
Setelah kita masuk ke kelas, semua orang yang ada di kelas menatap kita dengan tatapan yang aneh tetapi hal ini sudah biasa untukku tapi tidak untuk Saras. Ketika kita akan menaruh tas, salah anggota geng di kelasku yang bernama Lista menghampiri kita dan dia berkata,
“ Eh lo ngapain lo sama anak kampungan itu, gak jijik emangnya deket-deket sama anak yang kotor itu,, Ihhh” Kata Lista sambil mendorong salah satu bahu Saras dan menjauhkan Saras dariku.
 Aku hanya bisa terdiam dan menununduk ketika melihat temanku dihina. Aku terlalu lemah untuk mencoba melawan Lista karena aku sudah terbiasa untuk tidak melawan apalagi melakukan kekerasan fisik untuk membela diriku sendiri, yang kuharapkan Saras bisa mengerti dengan keadaan seperti ini. Tak lama kemudian Saras memberanikan diri untuk melawan Lista.
“ Kampungan kamu bilang? Setidaknya dia masih punya hati nggak seperti kamu yang bermulut kotor sering ngeluarin kata-kata sampah. Ihh lebih menjijikkan” Bela Saras untukku.
Dengan Saras berkata seperti itu membuat Lista semakin naik pitam.
“Berani-beraninya lo ya ngomong kayak gitu sama gue, dasar anak kotor!, sini lo lawan gue”
 Lista mulai mendekati Saras lalu menyerangnya tetapi Saras hanya diam saja dan tidak melawan. Untungnya ketika Lista akan menyerang Saras, Pak Guru tiba-tiba masuk ke kelas dan melihat mereka sedang bertengkar, Pak Guru kemudian melerai mereka berdua dan akhirnya membuat suasana kelas menjadi tenang. Aku mengusap air mataku dengan cepat dan mengajak Saras untuk kembali ke tempat duduk kami. Aku berusaha untuk fokus kepada pelajaran sejarah yang diberikan Pak Guru dan kulihat Saras yang duduk disampingku sedang melamun. Aku tahu dia sedang memikirkan banyak hal tentang kejadian tadi, yang ku harapkan hanya satu semoga saja dibetah di kelas barunya ini bersamaku.
Beberapa jam mata pelajaran yang dijadwalkan hari ini pun telah selesai. Aku ingin mengajak Saras untuk pulang ke rumah bersamaku walaupun rumahnya lebih jauh dari pada rumahku setidaknya  jalan ke rumah kita searah.
“ Pulang bareng yuk ras” pintaku kepada Saras sambil memegang tangannya.
“Maaf  ra aku hari ini enggak bisa” jawabnya dengan nada yang datar.
Aku yang mendengar jawabannya pun merasa ada yang salah dengan Saras, tidak biasanya dia menjawab pertanyaanku dengan nada yang sedatar itu tapi tidak apa masalah kalau dia menolaknya mungkin dia sedang memikirkan banyak hal, terutama tentang kejadian tadi pagi di kelas.
Setelah Saras berkata seperti itu tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku dari belakang, dia adalah Kak Daren, kakak kelasku dan lebih tepatnya sekarang adalah temanku. Kedatangannya yang tiba-tiba itu membuatku sedikit terkejut.
“ Ehh”  Kagetku.
“ Dera pulangnya sama siapa? Sendirian ya? Kalau mau sama gua aja yuk” Pinta Kak Daren yang masih memegang tanganku.
“Eeh itu, aku memang pulang sendirian tapi Saras juga sendirian” Jawabku gugup. Lalu aku memalingkan wajahku ke arah Saras dan aku melihatnya terus menatap Daren tetapi hanya dibalas dengan tatapan dingin oleh Daren. Tak lama kemudian Saras pergi dengan cepat dan meninggalkan kami berdua.
“ Saras enggak apa-apa kok sendirian, Dera pulang sama gua aja ya” Pintanya lagi yang membuatku mau tidak mau harus menerima ajakannya.
            Disamping itu, Saras pulang ke rumahnya dengan berlari saking kesalnya dia bahkan menangis sambil mengungkapkan kekesalannya.
            “ Kenapa aku harus seperti ini?. Kenapa seseorang yang ku tolong dari dulu bisa berbuat seperti ini kepadaku. Sejujurnya aku iri dengannya yang bisa dekat dengan seseorang yang telah ku idamkan dari dulu meski dulu kita pernah berpacaran setidaknya hubungan kita…Hikss hiks”
            Setidaknya hubungan kita tidak berahkir seperti ini, aku tidak ingin hubungan kita menjadi renggang dan aku juga tidak ingin ada perempuan lain dihatimu, kamu hanya milikku seorang….Hikss hikkss, bagaimapun juga aku akan merebutmu kembali kalau sampai dia memilikimu” gumam Saras dalam hati sambil mengusap air matanya yang telah jatuh.
 Dia tidak ingin terlihat seperti orang yang lemah sekarang, dia harus kuat dan terseyum ketika bertemu dengan orang-orang yang menganguminya (penggemarnya) tetapi situasi sekarang jauh berbeda, tidak ada penggemarnya yang menyapanya justru kebalikannya. Ada sekelompok orang yang melihatnya menangis ditengah gang yang sempit menuju rumahnya dan dengan segera menghadang Saras sehingga dia tidak bisa lewat.
“Yeah, sekarang mangsa gua sudah tertangkap” kata Lista dengan senangnya lalu menyuruh teman-temanya untuk mengikat Saras dan membawanya ke sebuah hutan yang sepi.
Di tengah hutan, tangan Saras diikat di sebuah pohon yang besar. Percuma saja kalau dia melawan mereka yang kekuatannya jauh berbeda dengannya dan sekarang Saras hanya bisa pasrah dan berdoa.
“ Lihat nih mangsa kita, liat wajahnya sekarang, dia menangis setelah berhasil menghindariku tadi pagi. Cup cup cup jangan nangis anak kotor, ishh menjijikkan” Kata Lista sambil mengapit dagu Saras lalu memaksanya untuk menatap mata Lista.
Saras tidak bisa meluapkan kemarahannya kepada mereka karena dia tahu situasi yang dia hadapi sekarang jauh berbeda dengan yang tadi pagi. Ia tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya diam dan menunduk sambil berusaha menahan tangisannya yang dipikirannya hanyalah bagaimana cara agar dia bisa keluar dari sini. Akhirnya dia memberanikan diri untuk biacara kepada Lista.
“Bisa kalian lepasin aku gak? Mau kalian sebenarnya apa?! bukannya kamu yang duluan nyari masalah sama aku, Lista”
“ Plakk! Apa yang lo bilang, omong kosong macam apa itu. Hahaha. Dengar baik-baik ya. Dari dulu gue emang gak suka sama anak kampungan itu dan lo belain-belian dia dengan cara nentang gue, ingat dulu gue yang nolongin lo ketika lo nggak punya teman dan sekarang lo udah populer malah gini balasan lo ke gue?! Mikiirr!” Kata Lista sambil menampar pipi Saras dan mampu membuat Saras terdiam sambil menahan rasa sakitnya.
“ Dan gue pengen lo jadi yang dulu lagi, kembali bergabung sama kita. Emangnya  lo mau jadi yang dulu lagi ketika lo belum bergabung sama gue? Enggak kan. Gue yakin lo bakalan nggak mau kayak dulu lagi. Lo yang dulu dimanfaatin sama teman lo terus lo dibully karena lo nggak punya teman dan untungnya gue nemuin lo lagi mau gantung diri. Gue yang udah nolongin lo, mencegah lo biar lo nggak jadi bunuh diri dan pilihan lo sekarang cuma dua lo mau bergabung lagi sama kita atau tetap berteman sama anak kampungan itu? Kalau lo milih bergabung sama kita gue tunggu buktinya besok. Huhh capek gua ngomongannya” Pinta Lista kepada Saras yang masih terdiam dan belum menjawab pertanyaannya.
Seketika dia teringat dengan masa lalunya yang begitu kelam yang tentunya hampir membuatnya mati. Lalu mereka pergi meninggalkan Saras yang masih terdiam menahan isakan tangisnya sambil menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya. Dia mau siapapun ingin melihatnya hancur sekarang.
Disisi lain, Aku dan Kak Daren pulang bersama. Di jalan yang indah dengan dihiasi bungan-bunga berguguran yang jatuh ke tanah serta obloran kami yang diiringi canda dan tawa membuatku semakin nyaman dengan suasana senja ini meskipun ada siswa-siswi yang melihat kami seperti sepasang kekasih yang baru menjalin hubungan tetapi kami tidak menghiraukannya dan malah terlarut dalam obloran. Lalu teman Kak Daren datang menghampiri kami lalu menatap wajah kami bergantian dan itu membuatku bingung.
“ Wajah kalian mirip ya, jangan-jangan kalian jodoh” Kata teman Kak Daren tetapi kami tidak menghiraukannya dan melanjutkan perjalanan kami.
“ Rumah kamu masih jauh nggak?” Tanya Kak Daren.
“Enggak kok kak, 15 menit juga sampai”
“Ngomong-ngomong, kamu di rumah sama siapa?”
“ Sama Ibu aja kak, dan aku anak tunggal”
“ Terus bagaimana dengan Ayahmu?”
“ Soal Ayah aku tidak terlalu tahu tapi kata Ibu, Ayah sudah pergi meninggalkan kami sejak aku masih bayi dan aku tidak tahu Ayah pergi kemana, kalau aku menanyakan soal Ayah pasti Ibu akan sedih lagi” Jawabku dan hanya dibalas ‘Ohh’ oleh Kak Daren.
“Kakak tahu, aku hanya menginginkan seorang Kakak dalam hidupku, bagiku memiliki seorang kakak yang bisa menjagaku adalah hal yang sangat berharga dalam hidupku” Sambungku tetapi hanya dibalas dengan tawa kecil oleh Kak Daren.
Tidak terasa 15 menit sudah berlalu dan kami sudah sampai depan depan rumahku. Ingin sekali rasanya mengobrol lagi dengan Kak Daren tapi ini sudah senja dan Kak Daren harus pulang ke rumahnya sekarang sebelum malam.
“ Sudah sampai kak. Terima kasih ya sudah nganterin aku pulang”
“ Sama-sama. Gua juga senang bisa nganterin kamu pul-” belum selesai Kak Daren menyelesaikan kalimatnya. Ibu datang datang dan menyela pembicaraan kami..
“Udah berani ya kamu pulang sama cowok jam segini, nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? Bikin Ibu khawatir aja” Kata Ibu memarahiku, marah Ibu masih tidak seberapa bagiku karena dulu aku sudah terbiasa dimarahi seperti ini. Aku hanya diam dan tertunduk dihadapan Ibuku, sama sepertiku Kak Daren juga terdiam dan menunduk. Aku takut kalau Kak Daren dimarahi juga sama Ibu bahkan marahnya lebih dari ini.
“ Siapa namamu?” Tanya ibu kepada Kak Daren..
 Kak Daren yang tadi hanya diam dan menunduk sekarang memberanikan diri untuk menatap Ibu.
“Mama” Kata Kak Daren yang membuat aku dan Ibu menjadi bingung.
Ketika dia menatap Ibuku, seketika ia teringat akan Mamanya yang dulu, wajahnya, tingkahnya sangat mirip dengan Ibu, sampai ia mulai menitikkan air mata, dia sangat merindukan Mamanya itu. Aku yang melihat Kak Daren seperti itu langsung mebuyarkannya dari lamunannya.
“ Kakak kenapa? Di tanya tuh sama Ibu” Kata ku yang langsung membuat Kak Daren tersadar dari lamunannya.
“ Enggak kenapa kok ra” bohongnya.
“ Perkenalkan bi namaku Darendra Devianathan, bibi bisa memanggilku Daren” Kata Kak Daren memperkenalkan dirinya kepada Ibuku.
            Aku menjadi semakin bingung ketika Ibuku tiba-tiba menangis, terharu setelah Kak Daren memperkenalkan dirinya. Tak lama kemudian Ibu memeluknya dengan erat seakan Kak Daren adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya. Lalu Ibu mengatakan kebenaran yang selama ini ia rahasian terhadapku.
            “ Daren, Dera adalah adik kandungmu yang dulu kamu gendong, sekarang dia sudah sebesar ini. Sekarang Ibu bahagia bisa bertemu denganmu lagi tapi Ibu tidak bisa kembali bersama Ayahmu. Maafkan Ibu ya, Ibu pergi bersama adikmu tanpa memberi tahumu terlebih dahulu” Kata Ibu sambil memeluk Kak Daren. Setelah mendengar hal itu aku langsung menghampiri Ibu lalu memeluknya.
            Aku lega setelah mendengar kebenaran itu dari Ibu. Sekarang impianku dari dulu sudah terwujud dan Kak Daren adalah kakak kandungku yang selama ini Ibu rahasiakan terhadapku Aku sangat bahagia dan bersyukur memiliki Kak Daren sebagai kakaku yang bisa menjagaku sekarang. Tak lama kemudian Kakak memelukku dengan erat.
            “ Maafkan kakak ya dek, kakak enggak bisa mencegah Ibu yang pergi bersamamu saat itu dan sekarang impianmu sudah terwujudkan? Impian kakak juga sudah terkabul. Sekarang kakak akan selalu bersamamu dan menjagamu karena kakak enggak mau kehilangan seorang adik yang begitu berharga dalam hidup kakak” Kata-kata Kak Daren yang selama ini ia pendam mampu membuatku menangis karena aku terlalu bahagia menjadi adik dari seorang Darendra.
            “ Tidak apa-apa kok kak, ini bukan salah siapa-siapa. Impianku juga sudah terwujud kak. Aku sangat bahagia dan bersyukur bisa menjadi adikmu”  Balasku
            “ Udah jangan nangis lagi, mulai sekarang kita akan bersama lagi, kalau kamu mau kemana-mana bilang ya sama kakak, kakak akan temani” Kata Kak Daren sambil terseyum lalu mengusap air mataku. Senja telah berlalu dan Kak Daren harus pulang ke rumah Ayah dan pergi meninggalkan aku dan Ibu.
            Keesokan harinya,
            Aku dan Kak Daren pergi bersama ke sekolah, dengan cuaca mendung seperti ini membuatku mengigil kedinginan. Kak Daren yang melihatku kedinginan langsung meminjamkan jaketnya kepadaku. Ditengah perjalanan menuju ke sekolah tiba-tiba Saras datang menghampiriku, dia tidak seperti biasanya menyapaku ketika kami bertemu. Lalu ia menarik tanganku untuk mengikutinya sedangkan Kak Daren mencegahku untuk tidak ikut dengan Saras tetapi karena Saras adalah teman baikku jadi aku meyakinkan Kak Daren agar mengizinkanku pergi bersama Saras.
            “ Saras, kita mau kemana? Bukannya kita akan pergi ke sekolah tapi ini bukan jalan menuju ke sekolah” Tanyaku kepada Saras tetapi dia hanya diam dan terus menarik tanganku untuk mengikutinya. Aku merasa kalau akhir-akhir ini ada yang salah dengannya dan aku memberanikan diri untuk melepas tangannya yang terus menarikku.
            “ Saras, kamu kenapa? Kalau ada masalah bisa kamu ceritakan kepadaku” Tanyaku sambil melepas genggaman Saras dan menatapnya.
            “ Aku enggak kenapa kok dan tidak ada masalah yang ku sembunyikan. Kenapa kamu tidak mau mengikutiku? Padalah aku ingin memberikanmu kejutan. Kamu tidak percaya lagi ya sama aku? Padalah aku yang selalu menolongmu ketika kamu tersakiti. Mungkin sekarang kamu sudah lupa karena kamu sekarang sudah bahagia bersamanya” Jawab Saras yang mampu membuatku terdiam.
            “ Maksudku bukan begitu, maaf ya Saras aku baru tau kalau kamu mau memberiku kejutan, aku mau kok ikut sama kamu” Jawabku sembari tersenyum kepada Saras dan aku sepakat untuk mengikutinya karena aku percaya kalau Saras adalah satu-satunya teman terbaikku sekarang.
Beberapa menit telah berlalu, Aku tidak tahu sekarang aku berada dimana karena Saras sudah menutup kedua mataku dengan kain berwarna hitam. Aku mengizinkannya menutup kedua mataku karena ia berniat untuk memberiku kejutan. Yang aku tahu sekarang aku berada tempat yang sepi yang jauh dari keramaian serta kurasaka angin yang kencang menerpa wajahku, rasanya sangat dingin.
            “ Saras, kita sekarang ada dimana?” Tanyaku kepada Saras yang masih menggenggam tanganku.
“ Tenang aja tempatnya indah kok, kamu pasti suka. Nah, sudah sampai nih, sekarang kamu tinggal maju beberapa langkah ke depan” Perintah Saras dan aku segera menurutinya.     Aku maju ke depan dengan langkah yang pelan, awalnya biasa-biasa saja tetapi setelah aku maju beberapa langkah aku merasakan seperti terjun ke bawah dan jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi hingga akhirnya kurasakan sakit yang luar biasa, terutama dibagian kepalaku dan pengelihatanku mulai menggelap sampai akhirnya aku tidak tersadar, mungkin ini akan menjadi akhir dari hidupku dan pertemuan singkat dengan kakakku akan menjadi hal yang paling berharga dalam hidupku walaupun singkat tetapi aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya. Aku sangat menyanyangi kakak. Selamat tinggal Kak Daren.
            “ Maaf ya Dera, ini merupakan balasanmu karena sudah menyakitiku tanpa kamu sadari dan aku lebih memilih kembali bersama Lista dan teman-temanya”
            Setelah melakukan hal yang sangat keji kepada Dera, Saras pun kembali ke sekolah. Sesampainya di depan gerbang sekolah ia melihat Daren yang sedang gelisah menunggu mereka datang. Daren yang melihat Saras tidak bersama Dera segera menghampiri Saras yang telihat ketakutan.
            “Dera dimana? Bukannya sama lo tadi” Tanya Daren dengan raut wajah khawatir sedangkan Saras hanya diam.
            “ Sekali lagi gua Tanya Dera dimana? Adik gua dimana?” Tanya Daren sekali lagi dan mampu membuat Saras gemetaran.
            “ Jadi, Dera adikmu?” Tanya Saras sambil menangis gemetaran.
            “ Iya, dia adik kandungku. Sekarang dia dimana?”
            Saras pun terkejut setelah mengetahui kebenaran bahwa mereka adalah kakak-adik dan ternyata selama ini dia telah salah paham sampai membenci Dera hingga membunuhnya. Akhinya ia memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang telah terjadi kepada Daren.                 Setelah itu, dengan segera Daren menemui Dera dan melihatnya sudah tidak bernyawa lagi. Daren sangat kesal kepada Saras dan akan melaporkannya ke polisi. Kemudian Daren mendekati Dera dan memeluknya. “Maafkan kakak ya, kakak enggak bisa menjaga kamu, kakak nggak bisa menjadi kakak yang terbaik untukmu, maaf kalau pertemuan kita sesingkat ini tapi kakak bahagia bisa melihatmu walaupun cuma sebentar”


Penulis: Dila Antini

Komentar