Cerpen 10 halaman. Judul: Forgive Me, My Sister
FORGIVE ME, MY SISTER
Darendra Devianathan, begitulah
namanya yang biasanya sering ku panggil dengan sebutan Kak Daren. Ia merupakan
seseorang yang baru-baru ini ku kenal setelah aku masuk ke sekolah yang sama
dengannya yaitu SMA Tunas Bangsa. Di sekolah, Kak Daren sangat terkenal karena
ia memiliki paras yang tampan dan juga pintar dalam olahraga terutama basket,
hal itu membuat para siswi-siswi di sekolahku menjadi bersaing dalam merebutkan
Kak Daren. Berbeda denganku yang hanya siswi biasa, aku tidak pintar begaul
hanya karena aku orang introvert bahkan aku sering menjadi bahan ejekan di
sekolah.
Sebelumnya perkenalkan namaku Dera
Naristya, biasa dipanggil Dera dan aku lahir di keluarga yang berkecukupan
bersama Ibuku saja. Ibu bilang dari dulu Ayah sudah meninggalkanku sejak aku
lahir dan aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena aku tahu betapa kecewanya
Ibu terhadap Ayah karena dia telah lama meninggalkan kami. Dulu, kami tinggal
di desa tapi karena aku ingin bersekolah di sekolah yang terkenal akhinya Ibu
dan aku sepakat untuk pindah ke kota.
Setelah aku bersekolah di sekolah
menengah atas yang cukup terkenal di kota ini aku merasa tidak nyaman. Berbagai
masalah muncul secara berturut-turut dan yang membuatku pasrah adalah aku
sering dibully di sekolah ini. Aku hanya bisa diam ketika ada seseorang yang
mengejekku dan hanya bisa menghindar ketika ada seseorang yang memukulku atau
menyakitiku secara fisik. Sadar bahwa aku hanya orang desa yang pindah ke kota
besar membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku juga sama seperti siswi-siswi
pada umumnya yang ingin merasakan jatuh cinta, sejujurnya aku sangat ingin
berteman dengan siapapun karena aku tidak mempunyai teman tetapi ku urungkan
niatku itu karena aku sadar aku tidak pintar bergaul dan juga aku bukanlah
siswi yang populer di sekolah ini. Tetapi aku sangat beruntung ketika ada
seseorang yang datang secara tiba-tiba menolongku ketika aku dibully. Dia
adalah Saras Puspita, biasa dipanggil dengan nama Saras. Saras merupakan siswi
yang populer di sekolah ini, dia sangat ramah dan baik hati kepada semua orang
dan parasnya yang cantik membuat siswa-siswa di sekolah ini jatuh cinta
padanya. Setelah kejadian itu dia menjadi satu-satunya teman baikku, aku sangat
berterima kasih kepadanya karena dia telah menolongku pada saat itu dan telah
mau menerima diriku sebagai temannya. Setelah aku mempunyai teman aku sangat
bersemangat untuk pergi ke sekolah dan mengobrol dengannya.
6 bulan kemudian…
Hari ini adalah hari dimulainya
semester kedua. Seperti biasanya aku pergi ke sekolah dengan jalan kaki karena
jarak rumah ke sekolah cukup dekat dan tidak lupa untuk berpamitan kepada Ibu.
Aku berjalan santai ke sekolah, setelah sampai di gerbang sekolah aku merasa
didorong oleh seseorang dari belakang sehingga membuatku hampir terjatuh. Orang
itu berbalik ke arahku lalu menatapku sambil berkata,
“
maaf gua nggak sengaja”
Aku
hanya diam dan menunduk karena aku belum biasa bicara bertatap muka dengan
orang yang tidak ku kenal.
“
sebelumnya perkenalkan nama gua Darendra Devianathan, lo bisa panggil gua
Daren” sambil mengurulkan tangannya lalu terseyum.
Awalnya
aku ragu-ragu untuk berkenalan dengannya tetapi setelah ku pikirkan akhirnya
aku mau menerima ulurannya dan memperkenalkan diriku.
“Perkenalkan
namaku Dera Naristya, bisa dipanggil Dera, aku anak kelas 10 IPA 2, salam
kenal”
Akhirnya
setelah mengatakan itu aku menjadi sedikit lega walaupun sebenarnya aku masih
malu karena dia adalah cowok populer di sekolah ini sedangkan aku hanya seorang
siswi biasa yang tidak populer dan bahkan sering dibully.
“Salam
kenal juga ya, hari ini kita sudah menjadi teman. Oh iya sekarang gua ada piket
kelas. Gua duluan ya”
Ketika
dia sudah pergi aku masih saja diam berdiri di depan gerbang sekolah sambil
memikirkan kejadian yang tadi, kejadian yang mampu membuatku terseyum.
Bagaimana tidak? Ini adalah pertama kalinya ada seorang siswa yang populer,
baik, ramah yang mau berteman denganku. Aku sangat bersyukur bisa berteman
dengan Daren dan Saras. Selama aku termenung memkirkan kejadian tadi tiba-tiba
Saras datang dan mengangetkanku
“Darrr!...Hai
Dera yang imut, kenapa nih muka mu merah begitu?” Tanyanya sambil memperhatikan
wajahku.
“Halo
Saras yang cantik. Ku kira siapa tadi, mengagetkanku saja. Mukaku nggak
kenapa-napa kok cuma panas aja” jawabku
sambil geleng-geleng kepala.
“
Heee...Serius nih? Ciee yang tadi kenalan sama Daren” Katanya sambil menggoda ku sedangkan aku
hanya diam mengiyakan kata-katanya.
“
Yuk ke kelas barengan udah mau bell lho” Katanya sambil terseyum lebar lalu
menarik tanganku.
Aku dan Saras dulunya beda kelas tapi saat
semester 2 ini kita menjadi teman sekelas. Alasan dia ingin sekelas denganku
adalah biar dia bisa menolongku jika aku dibully oleh teman-teman sekelasku.
Tentunya hal ini sangat membuatku bahagia karena aku bisa lebih dekat dengan
Saras dan aku juga merasa nyaman ketika dia berada didekatku.
Setelah
kita masuk ke kelas, semua orang yang ada di kelas menatap kita dengan tatapan
yang aneh tetapi hal ini sudah biasa untukku tapi tidak untuk Saras. Ketika kita
akan menaruh tas, salah anggota geng di kelasku yang bernama Lista menghampiri
kita dan dia berkata,
“
Eh lo ngapain lo sama anak kampungan itu, gak jijik emangnya deket-deket sama
anak yang kotor itu,, Ihhh” Kata Lista sambil mendorong salah satu bahu Saras
dan menjauhkan Saras dariku.
Aku hanya bisa terdiam dan menununduk ketika
melihat temanku dihina. Aku terlalu lemah untuk mencoba melawan Lista karena
aku sudah terbiasa untuk tidak melawan apalagi melakukan kekerasan fisik untuk
membela diriku sendiri, yang kuharapkan Saras bisa mengerti dengan keadaan
seperti ini. Tak lama kemudian Saras memberanikan diri untuk melawan Lista.
“
Kampungan kamu bilang? Setidaknya dia masih punya hati nggak seperti kamu yang
bermulut kotor sering ngeluarin kata-kata sampah. Ihh lebih menjijikkan” Bela
Saras untukku.
Dengan
Saras berkata seperti itu membuat Lista semakin naik pitam.
“Berani-beraninya
lo ya ngomong kayak gitu sama gue, dasar anak kotor!, sini lo lawan gue”
Lista mulai mendekati Saras lalu menyerangnya
tetapi Saras hanya diam saja dan tidak melawan. Untungnya ketika Lista akan
menyerang Saras, Pak Guru tiba-tiba masuk ke kelas dan melihat mereka sedang
bertengkar, Pak Guru kemudian melerai mereka berdua dan akhirnya membuat
suasana kelas menjadi tenang. Aku mengusap air mataku dengan cepat dan mengajak
Saras untuk kembali ke tempat duduk kami. Aku berusaha untuk fokus kepada
pelajaran sejarah yang diberikan Pak Guru dan kulihat Saras yang duduk
disampingku sedang melamun. Aku tahu dia sedang memikirkan banyak hal tentang
kejadian tadi, yang ku harapkan hanya satu semoga saja dibetah di kelas barunya
ini bersamaku.
Beberapa
jam mata pelajaran yang dijadwalkan hari ini pun telah selesai. Aku ingin
mengajak Saras untuk pulang ke rumah bersamaku walaupun rumahnya lebih jauh
dari pada rumahku setidaknya jalan ke
rumah kita searah.
“
Pulang bareng yuk ras” pintaku kepada Saras sambil memegang tangannya.
“Maaf ra aku hari ini enggak bisa” jawabnya dengan
nada yang datar.
Aku
yang mendengar jawabannya pun merasa ada yang salah dengan Saras, tidak
biasanya dia menjawab pertanyaanku dengan nada yang sedatar itu tapi tidak apa
masalah kalau dia menolaknya mungkin dia sedang memikirkan banyak hal, terutama
tentang kejadian tadi pagi di kelas.
Setelah
Saras berkata seperti itu tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku dari
belakang, dia adalah Kak Daren, kakak kelasku dan lebih tepatnya sekarang
adalah temanku. Kedatangannya yang tiba-tiba itu membuatku sedikit terkejut.
“
Ehh” Kagetku.
“
Dera pulangnya sama siapa? Sendirian ya? Kalau mau sama gua aja yuk” Pinta Kak
Daren yang masih memegang tanganku.
“Eeh
itu, aku memang pulang sendirian tapi Saras juga sendirian” Jawabku gugup. Lalu
aku memalingkan wajahku ke arah Saras dan aku melihatnya terus menatap Daren
tetapi hanya dibalas dengan tatapan dingin oleh Daren. Tak lama kemudian Saras
pergi dengan cepat dan meninggalkan kami berdua.
“
Saras enggak apa-apa kok sendirian, Dera pulang sama gua aja ya” Pintanya lagi
yang membuatku mau tidak mau harus menerima ajakannya.
Disamping
itu, Saras pulang ke rumahnya dengan berlari saking kesalnya dia bahkan
menangis sambil mengungkapkan kekesalannya.
“
Kenapa aku harus seperti ini?. Kenapa seseorang yang ku tolong dari dulu bisa
berbuat seperti ini kepadaku. Sejujurnya aku iri dengannya yang bisa dekat
dengan seseorang yang telah ku idamkan dari dulu meski dulu kita pernah
berpacaran setidaknya hubungan kita…Hikss hiks”
“Setidaknya
hubungan kita tidak berahkir seperti ini, aku tidak ingin hubungan kita menjadi
renggang dan aku juga tidak ingin ada perempuan lain dihatimu, kamu hanya
milikku seorang….Hikss hikkss, bagaimapun juga aku akan merebutmu kembali kalau
sampai dia memilikimu” gumam Saras dalam hati sambil mengusap air matanya yang
telah jatuh.
Dia tidak ingin terlihat seperti orang yang
lemah sekarang, dia harus kuat dan terseyum ketika bertemu dengan orang-orang
yang menganguminya (penggemarnya) tetapi situasi sekarang jauh berbeda, tidak
ada penggemarnya yang menyapanya justru kebalikannya. Ada sekelompok orang yang
melihatnya menangis ditengah gang yang sempit menuju rumahnya dan dengan segera
menghadang Saras sehingga dia tidak bisa lewat.
“Yeah,
sekarang mangsa gua sudah tertangkap” kata Lista dengan senangnya lalu menyuruh
teman-temanya untuk mengikat Saras dan membawanya ke sebuah hutan yang sepi.
Di
tengah hutan, tangan Saras diikat di sebuah pohon yang besar. Percuma saja
kalau dia melawan mereka yang kekuatannya jauh berbeda dengannya dan sekarang
Saras hanya bisa pasrah dan berdoa.
“
Lihat nih mangsa kita, liat wajahnya sekarang, dia menangis setelah berhasil
menghindariku tadi pagi. Cup cup cup jangan nangis anak kotor, ishh
menjijikkan” Kata Lista sambil mengapit dagu Saras lalu memaksanya untuk
menatap mata Lista.
Saras
tidak bisa meluapkan kemarahannya kepada mereka karena dia tahu situasi yang
dia hadapi sekarang jauh berbeda dengan yang tadi pagi. Ia tidak bisa berkata
apa-apa, dia hanya diam dan menunduk sambil berusaha menahan tangisannya yang
dipikirannya hanyalah bagaimana cara agar dia bisa keluar dari sini. Akhirnya
dia memberanikan diri untuk biacara kepada Lista.
“Bisa
kalian lepasin aku gak? Mau kalian sebenarnya apa?! bukannya kamu yang duluan
nyari masalah sama aku, Lista”
“
Plakk! Apa yang lo bilang, omong kosong macam apa itu. Hahaha. Dengar baik-baik
ya. Dari dulu gue emang gak suka sama anak kampungan itu dan lo belain-belian
dia dengan cara nentang gue, ingat dulu gue yang nolongin lo ketika lo nggak
punya teman dan sekarang lo udah populer malah gini balasan lo ke gue?!
Mikiirr!” Kata Lista sambil menampar pipi Saras dan mampu membuat Saras terdiam
sambil menahan rasa sakitnya.
“
Dan gue pengen lo jadi yang dulu lagi, kembali bergabung sama kita.
Emangnya lo mau jadi yang dulu lagi
ketika lo belum bergabung sama gue? Enggak kan. Gue yakin lo bakalan nggak mau
kayak dulu lagi. Lo yang dulu dimanfaatin sama teman lo terus lo dibully karena
lo nggak punya teman dan untungnya gue nemuin lo lagi mau gantung diri. Gue
yang udah nolongin lo, mencegah lo biar lo nggak jadi bunuh diri dan pilihan lo
sekarang cuma dua lo mau bergabung lagi sama kita atau tetap berteman sama anak
kampungan itu? Kalau lo milih bergabung sama kita gue tunggu buktinya besok.
Huhh capek gua ngomongannya” Pinta Lista kepada Saras yang masih terdiam dan
belum menjawab pertanyaannya.
Seketika
dia teringat dengan masa lalunya yang begitu kelam yang tentunya hampir
membuatnya mati. Lalu mereka pergi meninggalkan Saras yang masih terdiam
menahan isakan tangisnya sambil menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan
wajahnya. Dia mau siapapun ingin melihatnya hancur sekarang.
Disisi
lain, Aku dan Kak Daren pulang bersama. Di jalan yang indah dengan dihiasi
bungan-bunga berguguran yang jatuh ke tanah serta obloran kami yang diiringi
canda dan tawa membuatku semakin nyaman dengan suasana senja ini meskipun ada
siswa-siswi yang melihat kami seperti sepasang kekasih yang baru menjalin
hubungan tetapi kami tidak menghiraukannya dan malah terlarut dalam obloran.
Lalu teman Kak Daren datang menghampiri kami lalu menatap wajah kami bergantian
dan itu membuatku bingung.
“
Wajah kalian mirip ya, jangan-jangan kalian jodoh” Kata teman Kak Daren tetapi
kami tidak menghiraukannya dan melanjutkan perjalanan kami.
“
Rumah kamu masih jauh nggak?” Tanya Kak Daren.
“Enggak
kok kak, 15 menit juga sampai”
“Ngomong-ngomong,
kamu di rumah sama siapa?”
“
Sama Ibu aja kak, dan aku anak tunggal”
“
Terus bagaimana dengan Ayahmu?”
“
Soal Ayah aku tidak terlalu tahu tapi kata Ibu, Ayah sudah pergi meninggalkan
kami sejak aku masih bayi dan aku tidak tahu Ayah pergi kemana, kalau aku
menanyakan soal Ayah pasti Ibu akan sedih lagi” Jawabku dan hanya dibalas ‘Ohh’
oleh Kak Daren.
“Kakak
tahu, aku hanya menginginkan seorang Kakak dalam hidupku, bagiku memiliki
seorang kakak yang bisa menjagaku adalah hal yang sangat berharga dalam
hidupku” Sambungku tetapi hanya dibalas dengan tawa kecil oleh Kak Daren.
Tidak
terasa 15 menit sudah berlalu dan kami sudah sampai depan depan rumahku. Ingin
sekali rasanya mengobrol lagi dengan Kak Daren tapi ini sudah senja dan Kak
Daren harus pulang ke rumahnya sekarang sebelum malam.
“
Sudah sampai kak. Terima kasih ya sudah nganterin aku pulang”
“
Sama-sama. Gua juga senang bisa nganterin kamu pul-” belum selesai Kak Daren
menyelesaikan kalimatnya. Ibu datang datang dan menyela pembicaraan kami..
“Udah
berani ya kamu pulang sama cowok jam segini, nanti kalau terjadi apa-apa sama
kamu gimana? Bikin Ibu khawatir aja” Kata Ibu memarahiku, marah Ibu masih tidak
seberapa bagiku karena dulu aku sudah terbiasa dimarahi seperti ini. Aku hanya
diam dan tertunduk dihadapan Ibuku, sama sepertiku Kak Daren juga terdiam dan
menunduk. Aku takut kalau Kak Daren dimarahi juga sama Ibu bahkan marahnya
lebih dari ini.
“
Siapa namamu?” Tanya ibu kepada Kak Daren..
Kak Daren yang tadi hanya diam dan menunduk sekarang
memberanikan diri untuk menatap Ibu.
“Mama”
Kata Kak Daren yang membuat aku dan Ibu menjadi bingung.
Ketika
dia menatap Ibuku, seketika ia teringat akan Mamanya yang dulu, wajahnya,
tingkahnya sangat mirip dengan Ibu, sampai ia mulai menitikkan air mata, dia
sangat merindukan Mamanya itu. Aku yang melihat Kak Daren seperti itu langsung
mebuyarkannya dari lamunannya.
“
Kakak kenapa? Di tanya tuh sama Ibu” Kata ku yang langsung membuat Kak Daren
tersadar dari lamunannya.
“
Enggak kenapa kok ra” bohongnya.
“
Perkenalkan bi namaku Darendra Devianathan, bibi bisa memanggilku Daren” Kata
Kak Daren memperkenalkan dirinya kepada Ibuku.
Aku menjadi semakin bingung ketika
Ibuku tiba-tiba menangis, terharu setelah Kak Daren memperkenalkan dirinya. Tak
lama kemudian Ibu memeluknya dengan erat seakan Kak Daren adalah hal yang
paling berharga dalam hidupnya. Lalu Ibu mengatakan kebenaran yang selama ini
ia rahasian terhadapku.
“ Daren, Dera adalah adik kandungmu
yang dulu kamu gendong, sekarang dia sudah sebesar ini. Sekarang Ibu bahagia
bisa bertemu denganmu lagi tapi Ibu tidak bisa kembali bersama Ayahmu. Maafkan
Ibu ya, Ibu pergi bersama adikmu tanpa memberi tahumu terlebih dahulu” Kata Ibu
sambil memeluk Kak Daren. Setelah mendengar hal itu aku langsung menghampiri
Ibu lalu memeluknya.
Aku lega setelah mendengar kebenaran
itu dari Ibu. Sekarang impianku dari dulu sudah terwujud dan Kak Daren adalah
kakak kandungku yang selama ini Ibu rahasiakan terhadapku Aku sangat bahagia
dan bersyukur memiliki Kak Daren sebagai kakaku yang bisa menjagaku sekarang.
Tak lama kemudian Kakak memelukku dengan erat.
“ Maafkan kakak ya dek, kakak enggak
bisa mencegah Ibu yang pergi bersamamu saat itu dan sekarang impianmu sudah
terwujudkan? Impian kakak juga sudah terkabul. Sekarang kakak akan selalu
bersamamu dan menjagamu karena kakak enggak mau kehilangan seorang adik yang
begitu berharga dalam hidup kakak” Kata-kata Kak Daren yang selama ini ia
pendam mampu membuatku menangis karena aku terlalu bahagia menjadi adik dari
seorang Darendra.
“ Tidak apa-apa kok kak, ini bukan
salah siapa-siapa. Impianku juga sudah terwujud kak. Aku sangat bahagia dan
bersyukur bisa menjadi adikmu” Balasku
“ Udah jangan nangis lagi, mulai
sekarang kita akan bersama lagi, kalau kamu mau kemana-mana bilang ya sama
kakak, kakak akan temani” Kata Kak Daren sambil terseyum lalu mengusap air
mataku. Senja telah berlalu dan Kak Daren harus pulang ke rumah Ayah dan pergi
meninggalkan aku dan Ibu.
Keesokan
harinya,
Aku dan Kak Daren pergi bersama ke
sekolah, dengan cuaca mendung seperti ini membuatku mengigil kedinginan. Kak
Daren yang melihatku kedinginan langsung meminjamkan jaketnya kepadaku.
Ditengah perjalanan menuju ke sekolah tiba-tiba Saras datang menghampiriku, dia
tidak seperti biasanya menyapaku ketika kami bertemu. Lalu ia menarik tanganku
untuk mengikutinya sedangkan Kak Daren mencegahku untuk tidak ikut dengan Saras
tetapi karena Saras adalah teman baikku jadi aku meyakinkan Kak Daren agar
mengizinkanku pergi bersama Saras.
“ Saras, kita mau kemana? Bukannya
kita akan pergi ke sekolah tapi ini bukan jalan menuju ke sekolah” Tanyaku
kepada Saras tetapi dia hanya diam dan terus menarik tanganku untuk
mengikutinya. Aku merasa kalau akhir-akhir ini ada yang salah dengannya dan aku
memberanikan diri untuk melepas tangannya yang terus menarikku.
“ Saras, kamu kenapa? Kalau ada
masalah bisa kamu ceritakan kepadaku” Tanyaku sambil melepas genggaman Saras
dan menatapnya.
“ Aku enggak kenapa kok dan tidak
ada masalah yang ku sembunyikan. Kenapa kamu tidak mau mengikutiku? Padalah aku
ingin memberikanmu kejutan. Kamu tidak percaya lagi ya sama aku? Padalah aku
yang selalu menolongmu ketika kamu tersakiti. Mungkin sekarang kamu sudah lupa
karena kamu sekarang sudah bahagia bersamanya” Jawab Saras yang mampu membuatku
terdiam.
“ Maksudku bukan begitu, maaf ya
Saras aku baru tau kalau kamu mau memberiku kejutan, aku mau kok ikut sama
kamu” Jawabku sembari tersenyum kepada Saras dan aku sepakat untuk mengikutinya
karena aku percaya kalau Saras adalah satu-satunya teman terbaikku sekarang.
Beberapa
menit telah berlalu, Aku tidak tahu sekarang aku berada dimana karena Saras
sudah menutup kedua mataku dengan kain berwarna hitam. Aku mengizinkannya
menutup kedua mataku karena ia berniat untuk memberiku kejutan. Yang aku tahu
sekarang aku berada tempat yang sepi yang jauh dari keramaian serta kurasaka
angin yang kencang menerpa wajahku, rasanya sangat dingin.
“ Saras, kita sekarang ada dimana?”
Tanyaku kepada Saras yang masih menggenggam tanganku.
“
Tenang aja tempatnya indah kok, kamu pasti suka. Nah, sudah sampai nih,
sekarang kamu tinggal maju beberapa langkah ke depan” Perintah Saras dan aku
segera menurutinya. Aku maju ke depan
dengan langkah yang pelan, awalnya biasa-biasa saja tetapi setelah aku maju beberapa
langkah aku merasakan seperti terjun ke bawah dan jatuh dari ketinggian yang
sangat tinggi hingga akhirnya kurasakan sakit yang luar biasa, terutama
dibagian kepalaku dan pengelihatanku mulai menggelap sampai akhirnya aku tidak
tersadar, mungkin ini akan menjadi akhir dari hidupku dan pertemuan singkat
dengan kakakku akan menjadi hal yang paling berharga dalam hidupku walaupun
singkat tetapi aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya. Aku sangat
menyanyangi kakak. Selamat tinggal Kak Daren.
“ Maaf ya Dera, ini merupakan
balasanmu karena sudah menyakitiku tanpa kamu sadari dan aku lebih memilih
kembali bersama Lista dan teman-temanya”
Setelah melakukan hal yang sangat
keji kepada Dera, Saras pun kembali ke sekolah. Sesampainya di depan gerbang
sekolah ia melihat Daren yang sedang gelisah menunggu mereka datang. Daren yang
melihat Saras tidak bersama Dera segera menghampiri Saras yang telihat
ketakutan.
“Dera dimana? Bukannya sama lo tadi”
Tanya Daren dengan raut wajah khawatir sedangkan Saras hanya diam.
“ Sekali lagi gua Tanya Dera dimana?
Adik gua dimana?” Tanya Daren sekali lagi dan mampu membuat Saras gemetaran.
“ Jadi, Dera adikmu?” Tanya Saras
sambil menangis gemetaran.
“ Iya, dia adik kandungku. Sekarang
dia dimana?”
Saras pun terkejut setelah
mengetahui kebenaran bahwa mereka adalah kakak-adik dan ternyata selama ini dia
telah salah paham sampai membenci Dera hingga membunuhnya. Akhinya ia
memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang telah terjadi kepada Daren. Setelah itu, dengan segera Daren
menemui Dera dan melihatnya sudah tidak bernyawa lagi. Daren sangat kesal
kepada Saras dan akan melaporkannya ke polisi. Kemudian Daren mendekati Dera
dan memeluknya. “Maafkan kakak ya, kakak enggak bisa menjaga kamu, kakak nggak bisa
menjadi kakak yang terbaik untukmu, maaf kalau pertemuan kita sesingkat ini
tapi kakak bahagia bisa melihatmu walaupun cuma sebentar”
Penulis: Dila Antini
Komentar
Posting Komentar